Sabtu, 25 Februari 2012

Aku Datang Lagi ke Rumahmu


Aku datang lagi, sekarang tak berani ku ketuk pintumu
Aku takut tak akan terbuka lagi bahkan celah anginpun tidak buatku
Tak mampu aku menggerakkan tanganku tuk mengetuknya
Padahal sangat ingin aku masuk dan menemuimu

Aku datang lagi tapi hanya berani di teras rumahmu
Berat aku melangkah terus tapi enggan aku untuk melangkah mundur
Seluruh sel sel dalam tubuhku menginginkanmu
Desah nafasku begitu juga ruhku merindukanmu

Aku datang lagi meski beralas kaki, tapi kutetap takut rumahmu tak lagi bersih
Hina nanti, bernajis lantaimu, tak lagi sear ruanganmu
Aku sangat ingin tapi tak mampu, aku sangat rindu tapi malu bertemu
Sudah kukenakan pakaian dan jubahku termahal, tapi tetap saja ku merasa telanhang nanti

Aku datang lagi, tapi kali ini hanya di teras rumahmu
Tak mau aku hina agung rumahmu dengan kehadiranku
Jangan sampai buram lantai rumahmu tergores karenaku
Aku sangat ingin, tak sanggup aku menahan rinduku padamu

Rindu aku tuk membasuh tanan, kaki, wajah dan kepalaku dengan air rumahmu
Tapi aku hanya bisa terdiam di teras rumahmu, tak beranjak
Tak tahu mau masuk atau mengkerur lalu pergi

Tuhan aku datang lagi ke rumahmu, mau menengadahkan tangan untuk meminta ampun
Menenggelamkan wajahku ke dasar bumimu karena malu
Tuhan aku ingin pulang ke rumahmu dalam bersih
Meski ku sendiri ragu entah sabun apa yang mampu menghilangkan noda hidupku

Tuhanku ijinkan ku mengetuk pintu pintu rumahmu
Kumohon buka tuhanku dan biarkan aku masuk sebentar saja
Ijinkan aku sebentar saja merasakan debar debar imanku bergemuruh akan syahdunya ayat ayatmu
Biarkan aku merasakan sejuknya air wudhu mengelupas noda di tubuhku

Jangn biarkan aku teriris tercabik menahan rinduku ini padamu, jangan tuhanku
Jangan biarkan aku di luar diterpa angin kelam yng selalu memelukku
Jangan biarkan aku tuhanku,
Biarkan aku masuk dan membersihkan diriku agar nanti ku pulang tak lagi menanggung malu

Aku datang lagi ke rumahMu, Tuhanku

Rabu, 08 Februari 2012

Dia yang terhempas


Telah kuletakkan sepasang sayapku  di bumimu
Telah dengan hina keluar aku dari rumahmu
Hanya karena dia si kelam menjijikkan  silumpur atau apalah

Telah ku tapakkan kakiku yang mulia ini ke bumimu yang penuh najis.
Penuh hina kau buat aku
Hanya karena dia si kelam menjijikkan si lumpur atau apalah

Kita dulu begitu dekat, kau begitu agung dan aku bangga bisa menjadi pemujamu
Kita dulu begitu hangat, begitu tanpa batas
Hanya karena dia si kelam menjijikkan si lumpur atau apalah
Kau usir dan kau hinakan aku ditempat yang menjijikan ini

Sekarang dengan begitu hina kau berpaling tanpa mau melihatku
Jangankan mengunjungiku, memanggilkupun kau enggan
Begitu besarkah salahku tuanku, sampai kau buat aku begini
Tak bisakah aku naik banding ..tak bisakah

Seandainya kau mau, aku akan bersujud meminta ampun kepada mu
Seratus, seribu bahkan berjuta2 tahun kedepan
Atau kau mau aku kelilingi langitmu bumimu bintang2mu
Atau kau minta aku mengangkat bumimu langitmu
Atau menghitung pasir, menghitung bintang dan airmu lalu dikali dua  dikali 3 dan diakarkan 11

Tuanku berikan aku soal tersulitmu, biar sampai mengelupas kulitku , mengerut keningku, pecah pikirannku
Tuanku lakukan apa maumu berikan perintahmu ku kan turut dan patuh
Tapi jangan gantikan sayangmu hanya untuk dia si kelam menjijikkan si lumpur itu

Tuanku pungut aku kembali, tarik aku kembali biarkan aku memujamu lagi
Tuanku jangan lagi hinakan aku seperti ini
Biarkan aku kembali ...

Tuanku zat maha kekal, mulia semulianya
Liat aku tuanku.. apa kurangku  apa lebih dia
Aku lebih terang darinya, aku lebih mulia darinya
Jelas aku lebih harum dan lebih dulu memujamu

Tuanku liat liat saja
Silumpur itu mengkhianatimu  melanggar perintahmu,
Tuanku liat itu si lumpur itu berebut saling membunuh
Tuanku liat itu si lumpur itu saling memaki,
Tuanku liat itu si lumpur itu menjalankan laranganmu menjauhi perintahmu

Tuanku jika memang kau tak mengampuniku
Biarkan aku menjadi tak tampak oleh si lumpur
Biarkan aku meresap ke dalam darahnya .. dekat dengan nadi dan jantungnya
Ijinkan ijinkan aku berbaur dalam hatinya
Jadi tak mau aku sendiri di kawah itu sendiri
Tuanku kau akan liatt silumpurr itu akan mejadi pemujaku
dan tuanku aku tak mendendamu,, tak berani aku,
Tak sanggup aku menahan cemburu ini pada dia si kelam menjijikkan si lumpur itu
Tuanku biarkan aku kekal sampai nanti akhir tiba
Tuanku ya tuanku matikan aku dan biarkan nanti jika dirimu mau ... 
Ijinkan aku bersujud sekali lagi dibawah kuasamu